Jumat, 27 Desember 2013

Rain and Tears


Pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus di landasan yang basah. Rintik-rintik hujan masih menerpa kaca jendela pesawat yang kebetulan berada tepat di sisiku. Aku menarik nafas panjang, berusaha mencium aromanya. Aroma hujan tropis. Tetapi tentu saja belum bisa. Aromanya masih terhalang plat alumunium raksasa ini. Aku menekankan kepalaku ke sandaran, duduk lebih tegak daripada biasanya. Aku bisa merasakan detak jantungku menjadi lebih cepat. Nafasku semakin memburu. Menggigit bibir bawahku, aku tersadar.
Mungkin karena aku ada di kota ini lagi. Tinggal beberapa menit lagi darinya.
Hiruk-pikuk segera terjadi ketika pesawat sudah benar-benar berhenti. Semua orang meraih bagasinya, menenteng bawaan menuju pintu pesawat yang sudah dibuka. Aku menyandang tote bag-ku dan mengikuti langkah orang-orang tersebut. Setelah menganggukkan kepala kepada para awak kabin yang berbaris melepas kami, aku pun segera mendapatkan apa yang sedari tadi kuinginkan. Aroma hujan menyergapku. Aku menikmatinya dengan sendu. Titik-titik air ini ternyata begitu kurindu. Air. Bukan bunga es.
Dengan sabar aku menunggu bagasiku. Tidak banyak. Hanya beberapa pakaian di dalam sebuah kopor mungil. Eropa mengajariku efektivitas dan efisiensi dalam segala hal. Termasuk ketika bepergian. Tidak ada oleh-oleh. Tidak ada kopor kedua, apalagi ketiga dan seterusnya. Tidak ada kelebihan bagasi. Tidak ada biaya tambahan. Praktis. Lagipula aku bukan mau berlibur di tempat ini. Ini hanya perjalanan singkat demi sebuah misi. Menuntaskan kerinduan. Menuntaskan kesakitan. Walaupun efeknya hanya sementara. Hanya meredam. Tidak akan pernah tuntas.
Tanpa banyak menawar aku menaiki taksi yang pertama kujumpai. Supirnya membantuku memasukkan kopor ke dalam bagasi.
                “Hanya ini, Mbak?” Tanyanya.
                “Ya.” Jawabku sambil tersenyum dalam hati. Ah, Indonesia.
Aku menyebutkan tujuanku dan disambut oleh anggukan mengerti. Sepanjang perjalanan, supir taksi yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Diman itu mengajakku bercakap-cakap. Aku menyambut obrolannya dan merasa begitu lega, hanya karena aku bisa berbicara dengan bahasa ibuku lagi. Pak Diman cukup antusias mendengar bahwa aku bersekolah di Paris. Ia menanyakan banyak hal tentang kuliahku, kotaku… dan akhirnya tibalah pada pertanyaan itu.
                “Terus ini ke Jogja dalam rangka apa, Mbak? Lagi libur, kuliahnya?”
Untuk beberapa saat aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Belum sempat aku menjawab, Pak Diman sudah menambah pertanyaannya.
                “Mbak asli Jogja ya? Pulang kampung ini, ceritanya?”
Aku tertawa kecil menanggapi keramahannya. Kalau saja ceritaku sesingkat itu, Pak Diman. Aku akan menceritakannya di sini, saat ini.
                “Iya, saya sedang liburan. Tapi sebenarnya rumah ayah saya di Jakarta, Pak. Saya ke Jogja mau menemui kakak saya.”
                “Wooo.. kakaknya di Jogja? Kuliah juga, Mbak? Apa kerja? Kakak kandung atau.. wooo, saya tahu! Mesti ini kakak ketemu gede tho?”
Lagi-lagi aku tertawa mendengar tebakan sok tahu ala Pak Diman. Keramahannya menyentuhku, walaupun seharusnya batinku sakit mendengar tebakan itu. Kakak atau adik ketemu gede itu adalah ungkapan dalam Bahasa Jawa. Kakak atau adik yang bertemu setelah dewasa, atau secara harafiah berarti pacar. Dan yang menyakitkan adalah, tebakan Pak Diman sepenuhnya benar. Aku jatuh cinta. Pada kakak kandungku. Bukan salahku. Bukan juga salahnya. Baru dua tahun yang lalu aku tahu, bahwa aku punya saudara kandung. Satu tahun setelah kami saling jatuh cinta.
Kusadari lirikan ingin tahu Pak Diman dari kaca spion.
                “Kakak kandung, Pak. Dia sedang sakit. Sendirian di Jogja. Ayah dan kakak saya yang satu lagi ada di Jakarta. Jadi saya menemani dulu di Jogja. Biar ada yang merawat.”
Karena dialah yang paling kurindukan di setiap pagi dan malamku. Dialah yang selalu membuatku menangis dalam ratap rindu di atas tempat tidurku. Dialah yang selalu kuingat di setiap helai nafasku. Aku rindu ayahku. Aku rindu kakak sulungku. Tapi dialah rumah bagi hatiku.Tempat di mana aku selalu ingin pulang dan melepas rindu.
Kukerjapkan mataku beberapa kali, menahan air mata yang hampir meruap. Pak Diman membelokkan taksinya ke sebuah jalan kecil dan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mungil. Cat temboknya putih bersih, dengan kusen-kusen jendela yang peliturnya masih mengilat. Dia pernah bercerita padaku, dia berencana mengecat ulang rumah. Ternyata dia benar-benar mewujudkannya. Hasil karyanya kini ada di hadapanku. Tembok putih yang dingin. Kusen-kusen coklat yang membuatnya lebih hangat. Sederhana. Dan sepi.
Aku sudah sibuk mengeksekusi gerendel pagar, ketika Pak Diman meneduhkanku dengan sebuah payung yang sudah terbuka di sebelah tangannya. Tangan yang satunya menjinjing koporku.
Aku benar-benar harus memberinya tip yang layak.
Segera setelah pagar itu terbuka, kami berlari menuju teras rumah. Kubuka tote bag-ku dan mengambil sejumlah uang dari cheque holder-ku.
Walah, gede banget! Uangnya yang pas saja, Mbak.”
Nggak apa-apa, Pak Diman. Untuk Pak Diman ngopi.”
We lha, ini banyak banget tapi, Mbak.”
Nggak apa-apa, Pak. Mohon diterima. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai di sini.”
“Wooo.. ya sudah, gini saja!” Pak Diman merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar kartu nama. “Ini kartu nama saya. Pak Diman. Kalau Mbak butuh diantar lagi, nomor handphone saya ada di belakangnya.”
Aku membalik kartu nama armada taksi tersebut dan menemukan nomor seluler Pak Diman tertulis dengan spidol hijau. Aku tersenyum menyadari kesahajaan itu dan mengulurkan tanganku.
“Siap, Pak Diman. Kalau ada apa-apa, nanti saya hubungi Pak Diman.”
Pak Diman tersenyum sumringah. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa aku belum memperkenalkan diriku.
“Oya, Pak. Nama saya Ladya.”
“Wooo.. Mbak Ladya. Ya, ya, ya... namanya cantik, secantik orangnya.” Puji Pak Diman tanpa nada melecehkan sama sekali.
Aku tersenyum malu.
“Terima kasih, Pak.”
“Ya sudah, Bapak tinggal dulu. Selamat datang di Jogja, di Indonesia. Semoga masnya lekas sembuh.”
Dengan sabar mataku mengikuti kepergian Pak Diman. Walaupun tanganku sebenarnya sudah tak sabar untuk mengetuk pintu di belakangku dan menemukannya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin mencumbunya. Aku ingin mencintainya. Dengan sebuah helaan nafas panjang, aku memutar tubuhku.
Perlu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku telah berada dalam dekapannya. Ia membuka pintu, nyaris tanpa suara. Dan kini aku bisa merasakannya. Detak jantungnya yang tidak beraturan. Nafasnya yang memburu. Suhu tubuh yang terlalu hangat karena demamnya. Dan gulir bening yang berpindah dari pipinya ke pipiku. Kutatap matanya yang balas menatapku, dan tak perlu waktu lama bagiku untuk menemukan penderitaannya. Seburuk inikah dia merindukanku? Seburuk inikah setiap pagi dan malamnya? Seburuk inikah, Tuhan?
You’re here.” Bisiknya.
Aku mengangguk tanpa bisa menahan air mataku lagi.
Oui.” Kataku dengan suara serak.
Beberapa detik sesudahnya kami hanya saling menautkan kening dan membiarkan air mata kerinduan kami berjatuhan. Membasuh dendam kami pada jarak dan waktu. Pada keadaan yang membuat kami tidak akan pernah mungkin bersatu.
It’s like a dream, Ladya.” Katanya pedih.
Aku menyusupkan jemariku ke rambutnya dan menariknya lembut.
It’s me.” Kataku meyakinkannya.
Call my name.” Pintanya dengan nada putus asa.
Untuk beberapa saat aku hanya mampu menatap matanya. Entah berapa lama waktu yang kupunya untuk meringankan kepedihannya. Dan entah apa itu cukup baginya, bagi kami. Yang kutahu hanyalah aku mendekapnya sekali lagi, kali ini lebih erat dari sebelumnya. Rintik hujan kini berubah menjadi curah yang semakin deras, seolah ingin bertanding dengan air mata kami. Dengan lembut kudekatkan bibirku ke telinganya.
It’s me, Thara. I’m here.
***