Pesawat
yang kutumpangi mendarat dengan mulus di landasan yang basah. Rintik-rintik
hujan masih menerpa kaca jendela pesawat yang kebetulan berada tepat di sisiku.
Aku menarik nafas panjang, berusaha mencium aromanya. Aroma hujan tropis. Tetapi
tentu saja belum bisa. Aromanya masih terhalang plat alumunium raksasa ini. Aku
menekankan kepalaku ke sandaran, duduk lebih tegak daripada biasanya. Aku bisa
merasakan detak jantungku menjadi lebih cepat. Nafasku semakin memburu.
Menggigit bibir bawahku, aku tersadar.
Mungkin karena aku
ada di kota ini lagi. Tinggal beberapa menit lagi darinya.
Hiruk-pikuk
segera terjadi ketika pesawat sudah benar-benar berhenti. Semua orang meraih
bagasinya, menenteng bawaan menuju pintu pesawat yang sudah dibuka. Aku
menyandang tote bag-ku dan mengikuti langkah
orang-orang tersebut. Setelah menganggukkan kepala kepada para awak kabin yang
berbaris melepas kami, aku pun segera mendapatkan apa yang sedari tadi
kuinginkan. Aroma hujan menyergapku. Aku menikmatinya dengan sendu. Titik-titik
air ini ternyata begitu kurindu. Air. Bukan bunga es.
Dengan
sabar aku menunggu bagasiku. Tidak banyak. Hanya beberapa pakaian di dalam
sebuah kopor mungil. Eropa mengajariku efektivitas dan efisiensi dalam segala
hal. Termasuk ketika bepergian. Tidak ada oleh-oleh. Tidak ada kopor kedua,
apalagi ketiga dan seterusnya. Tidak ada kelebihan bagasi. Tidak ada biaya
tambahan. Praktis. Lagipula aku bukan mau berlibur di tempat ini. Ini hanya
perjalanan singkat demi sebuah misi. Menuntaskan kerinduan. Menuntaskan
kesakitan. Walaupun efeknya hanya sementara. Hanya meredam. Tidak akan pernah
tuntas.
Tanpa
banyak menawar aku menaiki taksi yang pertama kujumpai. Supirnya membantuku
memasukkan kopor ke dalam bagasi.
“Hanya ini, Mbak?” Tanyanya.
“Ya.” Jawabku sambil tersenyum
dalam hati. Ah, Indonesia.
Aku
menyebutkan tujuanku dan disambut oleh anggukan mengerti. Sepanjang perjalanan,
supir taksi yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Diman itu mengajakku
bercakap-cakap. Aku menyambut obrolannya dan merasa begitu lega, hanya karena
aku bisa berbicara dengan bahasa ibuku lagi. Pak Diman cukup antusias mendengar
bahwa aku bersekolah di Paris. Ia menanyakan banyak hal tentang kuliahku,
kotaku… dan akhirnya tibalah pada pertanyaan itu.
“Terus ini ke Jogja dalam rangka
apa, Mbak? Lagi libur, kuliahnya?”
Untuk
beberapa saat aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Belum sempat aku
menjawab, Pak Diman sudah menambah pertanyaannya.
“Mbak asli Jogja ya? Pulang
kampung ini, ceritanya?”
Aku
tertawa kecil menanggapi keramahannya. Kalau
saja ceritaku sesingkat itu, Pak Diman. Aku akan menceritakannya di sini, saat
ini.
“Iya, saya sedang liburan. Tapi sebenarnya
rumah ayah saya di Jakarta, Pak. Saya ke Jogja mau menemui kakak saya.”
“Wooo.. kakaknya di Jogja? Kuliah
juga, Mbak? Apa kerja? Kakak kandung atau.. wooo, saya tahu! Mesti ini kakak ketemu gede tho?”
Lagi-lagi
aku tertawa mendengar tebakan sok tahu ala Pak Diman. Keramahannya menyentuhku,
walaupun seharusnya batinku sakit mendengar tebakan itu. Kakak atau adik ketemu gede itu adalah ungkapan dalam
Bahasa Jawa. Kakak atau adik yang bertemu setelah dewasa, atau secara harafiah
berarti pacar. Dan yang menyakitkan
adalah, tebakan Pak Diman sepenuhnya benar. Aku jatuh cinta. Pada kakak
kandungku. Bukan salahku. Bukan juga salahnya. Baru dua tahun yang lalu aku tahu,
bahwa aku punya saudara kandung. Satu tahun setelah kami saling jatuh cinta.
Kusadari
lirikan ingin tahu Pak Diman dari kaca spion.
“Kakak kandung, Pak. Dia sedang
sakit. Sendirian di Jogja. Ayah dan kakak saya yang satu lagi ada di Jakarta.
Jadi saya menemani dulu di Jogja. Biar ada yang merawat.”
Karena dialah yang paling kurindukan di
setiap pagi dan malamku. Dialah yang selalu membuatku menangis dalam ratap
rindu di atas tempat tidurku. Dialah yang selalu kuingat di setiap helai
nafasku. Aku rindu ayahku. Aku rindu kakak sulungku. Tapi dialah rumah bagi
hatiku.Tempat di mana aku selalu ingin pulang dan melepas rindu.
Kukerjapkan
mataku beberapa kali, menahan air mata yang hampir meruap. Pak Diman
membelokkan taksinya ke sebuah jalan kecil dan akhirnya berhenti di depan
sebuah rumah mungil. Cat temboknya putih bersih, dengan kusen-kusen jendela
yang peliturnya masih mengilat. Dia pernah bercerita padaku, dia berencana
mengecat ulang rumah. Ternyata dia benar-benar mewujudkannya. Hasil karyanya
kini ada di hadapanku. Tembok putih yang dingin. Kusen-kusen coklat yang
membuatnya lebih hangat. Sederhana. Dan sepi.
Aku
sudah sibuk mengeksekusi gerendel pagar, ketika Pak Diman meneduhkanku dengan
sebuah payung yang sudah terbuka di sebelah tangannya. Tangan yang satunya
menjinjing koporku.
Aku benar-benar
harus memberinya tip yang layak.
Segera
setelah pagar itu terbuka, kami berlari menuju teras rumah. Kubuka tote bag-ku dan mengambil sejumlah uang
dari cheque holder-ku.
“Walah, gede banget!
Uangnya yang pas saja, Mbak.”
“Nggak apa-apa, Pak
Diman. Untuk Pak Diman ngopi.”
“We lha, ini banyak
banget tapi, Mbak.”
“Nggak apa-apa,
Pak. Mohon diterima. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai di sini.”
“Wooo.. ya sudah, gini saja!” Pak Diman merogoh sakunya dan
mengeluarkan selembar kartu nama. “Ini kartu nama saya. Pak Diman. Kalau Mbak
butuh diantar lagi, nomor handphone saya ada di belakangnya.”
Aku
membalik kartu nama armada taksi tersebut dan menemukan nomor seluler Pak Diman
tertulis dengan spidol hijau. Aku tersenyum menyadari kesahajaan itu dan
mengulurkan tanganku.
“Siap, Pak Diman. Kalau ada apa-apa, nanti saya hubungi Pak
Diman.”
Pak
Diman tersenyum sumringah. Tiba-tiba saja aku ingat bahwa aku belum
memperkenalkan diriku.
“Oya, Pak. Nama saya Ladya.”
“Wooo.. Mbak Ladya. Ya, ya, ya... namanya cantik, secantik
orangnya.” Puji Pak Diman tanpa nada melecehkan sama sekali.
Aku
tersenyum malu.
“Terima kasih, Pak.”
“Ya sudah, Bapak tinggal dulu. Selamat datang di Jogja, di
Indonesia. Semoga masnya lekas sembuh.”
Dengan
sabar mataku mengikuti kepergian Pak Diman. Walaupun tanganku sebenarnya sudah
tak sabar untuk mengetuk pintu di belakangku dan menemukannya. Aku ingin
memeluknya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin mencumbunya. Aku ingin
mencintainya. Dengan sebuah helaan nafas panjang, aku memutar tubuhku.
Perlu
beberapa detik untuk menyadari bahwa aku telah berada dalam dekapannya. Ia
membuka pintu, nyaris tanpa suara. Dan kini aku bisa merasakannya. Detak
jantungnya yang tidak beraturan. Nafasnya yang memburu. Suhu tubuh yang terlalu
hangat karena demamnya. Dan gulir bening yang berpindah dari pipinya ke pipiku.
Kutatap matanya yang balas menatapku, dan tak perlu waktu lama bagiku untuk
menemukan penderitaannya. Seburuk inikah dia merindukanku? Seburuk inikah
setiap pagi dan malamnya? Seburuk inikah, Tuhan?
“You’re here.”
Bisiknya.
Aku
mengangguk tanpa bisa menahan air mataku lagi.
“Oui.” Kataku
dengan suara serak.
Beberapa
detik sesudahnya kami hanya saling menautkan kening dan membiarkan air mata
kerinduan kami berjatuhan. Membasuh dendam kami pada jarak dan waktu. Pada
keadaan yang membuat kami tidak akan pernah mungkin bersatu.
“It’s like a dream,
Ladya.” Katanya pedih.
Aku
menyusupkan jemariku ke rambutnya dan menariknya lembut.
“It’s me.” Kataku
meyakinkannya.
“Call my name.”
Pintanya dengan nada putus asa.
Untuk
beberapa saat aku hanya mampu menatap matanya. Entah berapa lama waktu yang
kupunya untuk meringankan kepedihannya. Dan entah apa itu cukup baginya, bagi
kami. Yang kutahu hanyalah aku mendekapnya sekali lagi, kali ini lebih erat
dari sebelumnya. Rintik hujan kini berubah menjadi curah yang semakin deras,
seolah ingin bertanding dengan air mata kami. Dengan lembut kudekatkan bibirku
ke telinganya.
“It’s me, Thara. I’m
here.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar