Senin, 06 Januari 2014

Dream or Reality


Thara

Aku mendapati diriku tertidur di sofa ruang tengah. Sudah lama aku tidak pernah tidur di kamarku sendiri. Bukan karena ruangan ini lebih luas atau nyaman, melainkan karena aku selalu merasa ingin menunggu. Kedatangannya, yang selalu kurindu di setiap pagi dan malamku. Beruntung dia akan benar-benar pulang hari ini. Setelah penantianku yang hanya berhenti pada harap semata selama ini.

Sebelumnya dia sudah memberitahuku bahwa dia akan pulang ke Indonesia akhir tahun ini. Tapi sialnya dia tahu kalau aku sedang sakit. Maka alih-alih di Jakarta, dia memutuskan untuk mendarat di kota ini. Dia juga berkeras tidak mau dijemput di bandara, karena menurutnya kondisiku kurang memungkinkan. Mulanya aku memaksa, tetapi dia mulai mengancam “kembali ke Paris hari ini juga” jika aku tetap seperti itu. Begitulah, sifatnya tidak berubah. Tetap keras kepala. Namun dalam hati aku senang. Sepertinya Eropa tidak membuatnya banyak berubah.  

Dengan gerakan lambat kusentuh keningku. Masih panas. Sudah empat hari demamku tidak turun. Hujan tanpa henti belakangan ini benar-benar sukses merobohkan staminaku ke titik nol. Bukannya membenci hujan. Aku justru tergila-gila setengah mati pada rinainya. Namun aku benci cuaca dingin yang menyertainya. Mungkin karena itu pulalah aku selalu merindukan dia. Rindu hangat tubuhnya. Nafasnya. Tatapnya. Tawanya. Batinku pasti sudah menjerit merindunya, andai dia bisa.

Kupandangi awan mendung dari balik jendela yang kembali menjatuhkan titik-titik hujan. Dalam hati aku bertanya-tanya seperti apakah dia sekarang, setelah sekian lama. Dia mencintai Paris, seperti aku mencintai hujan. Kota itu pasti cocok dengannya. Mereka sama-sama cantik. Indah. Aku mulai membayangkan rambut hitamnya. Seperti apa dia menatanya sekarang? Semoga dia tetap membiarkannya panjang. Aku suka dia berambut panjang.

Ah, sepertinya demam ini mulai membuatku tidak waras.

Kutarik termometer digital yang beberapa menit lalu kuselipkan di bawah lidahku dan mulai membacanya. Empat puluh derajat? Yang benar saja! Bahkan demam lebih dari empat hari inipun adalah hal baru bagiku. Dengan hati-hati kutegakkan tubuhku. Kuletakkan termometer itu di meja ruang tamu. Beberapa detik setelahnya kusadari diriku hanya terdiam, termangu menatap pintu.

Seharusnya pesawatnya sudah mendarat satu jam yang lalu.

Diantara derai hujan, samar-samar kudengar gerendel pintu pagar dibuka. Tidak banyak orang yang bertamu ke rumah ini. Mungkinkah itu dia? Dengan hati-hati aku berdiri, melawan limbungku sendiri. Kuseret langkahku hingga aku berhasil meraih handle pintu. Suara itu… ya, itu suaranya… Kutekan tuas itu perlahan, dan tiba-tiba saja hatiku merasa kecut. Aku takut kalau-kalau orang ini hanyalah tamu biasa, bukan dirinya. Ini akan berakhir seperti mimpi yang selalu berulang di setiap malamku.

Biar saja. Walaupun ini hanya mimpi, aku tetap menginginkannya. Aku ingin sekali memeluknya.

Kubuka pintu di hadapanku perlahan-lahan, nyaris tanpa suara. Sosoknya berdiri memunggungiku. Aku tahu aku harus meraihnya sebelum aku terbangun. Aku harus memeluknya terlebih dahulu. Kini sosoknya hampir berbalik menghadapku. Aku tidak boleh terbangun. Tidak! Tidak! Jangan dulu. Ya… aku mendapatkannya. Kini aku boleh bangun, aku sudah mendekapnya… aku sudah mendekapnya… aku merasakan air mataku. Aku pasti menangis lagi dalam tidurku. Aku tidak peduli.

Beberapa detik berselang ia menatapku. Tuhan begitu baik malam ini, memperpanjang mimpiku hingga ke tahap ini.

You’re here.” Bisikku.
Dia mengangguk dan seketika itu bergulirlah air di sudut matanya.
Oui.” Katanya dengan suara serak.
Beberapa detik sesudahnya ia menautkan keningnya ke keningku dan membiarkan air mata kami berjatuhan. Aku menyerah. Inilah dia. Ladyaku. Aku – pada akhirnya – harus menyerah pada ketidakwarasanku.
It’s like a dream, Ladya.” Kataku pedih.
Dia menyusupkan jemarinya ke rambutku dan menariknya lembut. Aku selalu menyukai itu.
It’s me.” Katanya berusaha meyakinkanku.
Call my name.” Pintaku dengan nada putus asa.
Untuk beberapa saat dia hanya mampu menatap mataku. Aku tahu dia membaca semua kesakitan di jiwaku. Aku tahu batinnya pun menjerit mendapatiku dalam keadaan seperti itu. Matanya berkilau dalam kesedihan. Namun dia mendekapku kembali dengan segala ketabahannya dan melantunkan namaku bagai sebuah doa.
 It’s me, Thara. I’m here.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar