Thara
Aku mendapati
diriku tertidur di sofa ruang tengah. Sudah lama aku tidak pernah tidur di
kamarku sendiri. Bukan karena ruangan ini lebih luas atau nyaman, melainkan
karena aku selalu merasa ingin menunggu. Kedatangannya, yang selalu kurindu di setiap
pagi dan malamku. Beruntung dia akan benar-benar pulang hari ini. Setelah
penantianku yang hanya berhenti pada harap semata selama ini.
Sebelumnya dia sudah memberitahuku bahwa dia akan pulang ke
Indonesia akhir tahun ini. Tapi sialnya dia tahu kalau aku sedang sakit. Maka
alih-alih di Jakarta, dia memutuskan untuk mendarat di kota ini. Dia juga berkeras
tidak mau dijemput di bandara, karena menurutnya kondisiku kurang memungkinkan.
Mulanya aku memaksa, tetapi dia mulai mengancam “kembali ke Paris hari ini
juga” jika aku tetap seperti itu. Begitulah, sifatnya tidak berubah. Tetap
keras kepala. Namun dalam hati aku senang. Sepertinya Eropa tidak membuatnya banyak
berubah.
Dengan gerakan lambat kusentuh keningku. Masih panas. Sudah empat
hari demamku tidak turun. Hujan tanpa henti belakangan ini benar-benar sukses
merobohkan staminaku ke titik nol. Bukannya membenci hujan. Aku justru
tergila-gila setengah mati pada rinainya. Namun aku benci cuaca dingin yang
menyertainya. Mungkin karena itu pulalah aku selalu merindukan dia. Rindu
hangat tubuhnya. Nafasnya. Tatapnya. Tawanya. Batinku pasti sudah menjerit
merindunya, andai dia bisa.
Kupandangi awan mendung dari balik jendela yang kembali
menjatuhkan titik-titik hujan. Dalam hati aku bertanya-tanya seperti apakah dia
sekarang, setelah sekian lama. Dia mencintai Paris, seperti aku mencintai
hujan. Kota itu pasti cocok dengannya. Mereka sama-sama cantik. Indah. Aku
mulai membayangkan rambut hitamnya. Seperti apa dia menatanya sekarang? Semoga
dia tetap membiarkannya panjang. Aku suka dia berambut panjang.
Ah, sepertinya
demam ini mulai membuatku tidak waras.
Kutarik termometer digital yang beberapa menit lalu kuselipkan
di bawah lidahku dan mulai membacanya. Empat puluh derajat? Yang benar saja! Bahkan
demam lebih dari empat hari inipun adalah hal baru bagiku. Dengan hati-hati kutegakkan
tubuhku. Kuletakkan termometer itu di meja ruang tamu. Beberapa detik
setelahnya kusadari diriku hanya terdiam, termangu menatap pintu.
Seharusnya
pesawatnya sudah mendarat satu jam yang lalu.
Diantara derai hujan, samar-samar kudengar gerendel pintu
pagar dibuka. Tidak banyak orang yang bertamu ke rumah ini. Mungkinkah itu dia?
Dengan hati-hati aku berdiri, melawan limbungku sendiri. Kuseret langkahku
hingga aku berhasil meraih handle
pintu. Suara itu… ya, itu suaranya… Kutekan tuas itu perlahan, dan tiba-tiba
saja hatiku merasa kecut. Aku takut kalau-kalau orang ini hanyalah tamu biasa,
bukan dirinya. Ini akan berakhir seperti mimpi yang selalu berulang di setiap
malamku.
Biar saja. Walaupun
ini hanya mimpi, aku tetap menginginkannya. Aku ingin sekali memeluknya.
Kubuka pintu di hadapanku perlahan-lahan, nyaris tanpa suara.
Sosoknya berdiri memunggungiku. Aku tahu aku harus meraihnya sebelum aku
terbangun. Aku harus memeluknya terlebih dahulu. Kini sosoknya hampir berbalik
menghadapku. Aku tidak boleh terbangun. Tidak! Tidak! Jangan dulu. Ya… aku
mendapatkannya. Kini aku boleh bangun, aku sudah mendekapnya… aku sudah
mendekapnya… aku merasakan air mataku. Aku pasti menangis lagi dalam tidurku.
Aku tidak peduli.
Beberapa detik berselang ia menatapku. Tuhan begitu baik
malam ini, memperpanjang mimpiku hingga ke tahap ini.
“You’re here.”
Bisikku.
Dia mengangguk dan seketika itu bergulirlah air di sudut matanya.
“Oui.” Katanya
dengan suara serak.
Beberapa detik sesudahnya ia menautkan keningnya ke keningku
dan membiarkan air mata kami berjatuhan. Aku menyerah. Inilah dia. Ladyaku. Aku
– pada akhirnya – harus menyerah pada ketidakwarasanku.
“It’s like a dream,
Ladya.” Kataku pedih.
Dia menyusupkan jemarinya ke rambutku dan menariknya lembut.
Aku selalu menyukai itu.
“It’s me.” Katanya
berusaha meyakinkanku.
“Call my name.”
Pintaku dengan nada putus asa.
Untuk beberapa saat dia hanya mampu menatap mataku. Aku tahu
dia membaca semua kesakitan di jiwaku. Aku tahu batinnya pun menjerit
mendapatiku dalam keadaan seperti itu. Matanya berkilau dalam kesedihan. Namun
dia mendekapku kembali dengan segala ketabahannya dan melantunkan namaku bagai
sebuah doa.
“It’s me, Thara. I’m here.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar